0-1440x3248-0-0-{}-0-24#
Pariaman – Bukittinggi – Sebuah kabar duka mendalam menyelimuti keluarga besar Syarikat Islam Bukittinggi menyusul kecelakaan tragis yang menimpa orang tua dari Bapak Irman, pengurus syarikat IsIam Bukittinggi. Peristiwa naas yang terjadi pasca Lebaran ini merenggut nyawa ayahandanya, Almarhum Lasperi Sutan Malenggang (82 tahun), yang harus mengembuskan napas terakhir akibat benturan keras yang dialami kendaraan mereka.
Kepergian almarhum Lasperi Sutan Malenggang meninggalkan duka yang mendalam, terlebih bagi putranya, Irman, yang merupakan pengurus aktif Syarikat Islam Bukittinggi. Sosok Irman memang tak asing lagi.
Irman dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi, sangat mudah bergaul, dan memiliki kharisma yang membuatnya disenangi serta disegani di berbagai kalangan.
Tak hanya itu, Irman juga dikenal sebagai pelatih di sebuah perguruan silat ternama, sosok yang tangguh namun penuh keramahan.

Namun, takdir berkata lain. Dalam insiden tersebut, Irman sendiri mengalami nasib yang sangat memprihatinkan. Ia harus berjuang melawan rasa sakit akibat luka berat dan harus menjalani tindakan operasi.
Sementara penumpang lainnya juga tak luput dari musibah, meski hanya mengalami luka ringan seperti jahitan pada bagian kening, membuat kepanikan dan kesedihan tetap menyelimuti seluruh rombongan.
Menyikapi peristiwa pilu ini, Ketua Syarikat Islam Bukittinggi, Tuanku Rismaidi, angkat bicara dan memimpin langsung kunjungan bela sungkawa ke rumah duka.
” Melayat bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan kewajiban mulia yang memiliki landasan kuat dalam ajaran agama. Islam mengajarkan bahwa turut merasakan kesedihan saudara seiman adalah bagian dari iman, dan mendoakan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan merupakan amal yang dicatat sebagai kebaikan.” Tutur Tuanku Rismaidi dengan nada sedih mendalam.
Beliau menambahkan, Lebih dari sekadar nilai agama, kegiatan melayat juga memiliki makna yang sangat dalam dalam bingkai adat istiadat. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi budaya, kehadiran kita di rumah duka adalah wujud nyata dari falsafah “datuak nan mamacik, urang nan manjalang”.

Ini adalah bukti bahwa tali persaudaraan tidak putus oleh ruang dan waktu, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun, kebersamaanlah yang menjadi kekuatan.
Secara sosial, kehadiran keluarga besar Syarikat Islam juga menjadi penegas bahwa kita adalah satu kesatuan yang saling menjaga. Di tengah kesedihan yang mendera, dukungan moril dari rekan-rekan sejawat menjadi obat yang menenangkan hati.
” Organisasi bukan hanya tempat berdiskusi, melainkan rumah besar tempat kita saling menguatkan dan berbagi, baik di saat suka maupun duka” tuturnya.
Tidak lupa memberikan wasiat, melayat adalah sarana untuk mengintrospeksi diri. Bahwa hidup itu singkat, dan kematian adalah kepastian yang tak dapat ditawar. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memperbanyak amal kebajikan dan menjaga silaturahmi.
Kepada Almarhum Lasperi Sutan Malenggang, semoga segala dosa diampuni, dan diterima di sisi-Nya, serta bagi Irman dan keluarga, diberikan kesabaran dan kesembuhan yang menyeluruh.
**My**






