SINTOGA, PADANG PARIAMAN — Potensi ekonomi berbasis lingkungan kembali mendapat perhatian. Ketua LAZNAS Syarikat Islam Sumatera Barat, Dr. Fakhri Zaki, SE., MM., melakukan kunjungan ke Rumah Maggot Sintoga milik Bapak Kasno, sebuah usaha budidaya maggot yang sebelumnya sempat viral dan menjadi perhatian masyarakat.
Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi. Di balik aktivitas budidaya maggot yang terlihat sederhana, tersimpan peluang ekonomi umat sekaligus solusi pengelolaan sampah organik yang dinilai sangat potensial untuk dikembangkan.
? DULU VIRAL, KINI DILIRIK SEBAGAI PELUANG EKONOMI
Sekitar setengah tahun lalu, Rumah Maggot Sintoga milik Kasno sempat menjadi perbincangan dan viral. Banyak masyarakat melihat serta memberikan perhatian terhadap aktivitas budidaya tersebut.
Bahkan, lokasi itu juga pernah mendapat perhatian dari sejumlah pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Padang Pariaman dan Ibu Bupati Padang Pariaman.
Kini, usaha yang awalnya mungkin dipandang sederhana tersebut kembali mendapat perhatian dari LAZNAS Syarikat Islam Sumatera Barat.
Dalam kunjungannya, Dr. Fakhri Zaki melihat langsung proses budidaya sekaligus berdialog dengan Kasno mengenai perjalanan usaha tersebut.
Dalam pertemuan itu, Kasno menceritakan bagaimana dirinya mulai mengenal, mempelajari, hingga mampu menjalankan budidaya maggot.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa dengan kemauan belajar, ketekunan, dan pengelolaan yang tepat, limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi bagian dari sebuah kegiatan ekonomi produktif.
Bagi LAZNAS Syarikat Islam Sumatera Barat, pengalaman Kasno justru menjadi contoh nyata bahwa masyarakat dapat didorong untuk mengembangkan usaha berbasis lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.
Dr. Fakhri Zaki menilai budidaya maggot memiliki prospek yang menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu model pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Ini adalah peluang ekonomi umat. Sayang kalau tidak kita kembangkan, karena sumbernya tidak pernah habis.”
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa potensi budidaya maggot tidak hanya terletak pada hasil produksinya, tetapi juga pada ketersediaan bahan baku berupa limbah organik yang setiap hari dihasilkan oleh rumah tangga, pasar, maupun berbagai aktivitas masyarakat.
Dengan pengelolaan yang baik, sampah organik dapat dipilah dan dimanfaatkan sebagai bagian dari rantai produksi maggot, sementara hasil budidayanya dapat memiliki nilai ekonomi.
Budidaya maggot memiliki dua sisi manfaat sekaligus: lingkungan dan ekonomi.
Di satu sisi, pengolahan limbah organik dapat membantu mengurangi beban sampah. Di sisi lain, budidaya tersebut berpotensi menciptakan sumber pendapatan bagi masyarakat apabila dikelola secara profesional dan memiliki pasar yang jelas.
Konsep seperti inilah yang menarik perhatian LAZNAS Syarikat Islam Sumatera Barat untuk melihat lebih jauh kemungkinan pengembangan pemberdayaan ekonomi umat berbasis lingkungan.
Bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi mendorong masyarakat agar mampu membangun usaha produktif dan berkelanjutan.
Kunjungan Dr. Fakhri Zaki ke Rumah Maggot Sintoga menjadi momentum untuk membuka kembali pembicaraan mengenai potensi usaha tersebut.
Dari Sintoga, sebuah pesan sederhana muncul:
Jangan buru-buru menganggap sampah sebagai masalah. Dengan pengetahuan dan pengelolaan yang tepat, sampah bisa menjadi sumber daya.
Dan dari sebuah rumah maggot milik masyarakat, bisa saja lahir model ekonomi umat yang mandiri, produktif, sekaligus ramah lingkungan.
LAZNAS Syarikat Islam Sumatera Barat pun melihat bahwa potensi tersebut layak dikaji dan dikembangkan lebih jauh melalui kolaborasi masyarakat, lembaga sosial, pemerintah, serta pelaku usaha.
Maggot bukan sekadar pakan.
Sampah bukan sekadar limbah.
Jika dikelola dengan ilmu, keduanya bisa menjadi peluang.
Kini pertanyaannya bukan lagi “apa manfaat maggot?”
ng bisa kita bangun dari maggot?”







