Bukittinggi, 22 Mei 2026 – Menjelang peringatan 28 tahun Reformasi, Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film Di Balik 98, yang dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan, Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), pengurus Syarikat Islam, mahasiswa, perwakilan organisasi kepemudaan, serta dan pemuda . Kegiatan ini menjadi ruang refleksi mendalam sekaligus pengingat kembali nilai-nilai perjuangan yang menjadi tonggak demokrasi Indonesia saat ini.
Ridwan, Ketua Cabang GPII dalam pengantarnya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan momen penting untuk merefleksikan kembali makna lahirnya Reformasi. “Kita gelorakan kembali semangat para pejuang masa lalu, yang hingga hari ini harus terus dikumandangkan agar nilai-nilai itu tetap hidup dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Kami berharap ke depan, pemikiran dan kesadaran tentang hak, kewajiban, dan pengawalan demokrasi ini semakin mantap dan kokoh di hati setiap pemuda,” ujarnya.
Mewakili Kesbangpol, Hendri menyampaikan apresiasi dan penghormatan tinggi terhadap inisiatif pemuda. Ia menegaskan bahwa perubahan adalah keniscayaan.
Ivan Haikal, Salah satu tokoh dan penggagas kegiatan menyatakan sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

“Seperti cahaya matahari yang pasti terbit, perubahan tak bisa dibendung. Sejarah membuktikan, perubahan besar di tahun 1945, 1965, hingga 1998 selalu digerakkan oleh pemuda. Jangan pernah takut untuk berbicara kebenaran. Namun hari ini, demokrasi justru terancam. Ada upaya pelarangan penayangan film, ada institusi yang terasa berusaha menutup diri dari kritik, muncul wacana pemakzulan yang direspons dengan ancaman penjara, hingga gejala sentralisasi kekuasaan yang perlahan merampas kembali kewenangan daerah yang telah menjadi janji Reformasi sejak 1998,” tegas Ivan Haikal dalam pemaparannya.
Ivan juga menyoroti sejumlah isu krusial yang kini mengemuka, mulai dari wacana sekularisasi, rencana sistem pemilihan kepala daerah, hingga ketakutan para calon pemimpin terhadap partai pengusung.
“Pertanyaan besar kita: apakah kekuatan militer masih menjadi ancaman bagi demokrasi? Harus ditegaskan, presiden dan pemimpin mana pun tidak boleh membungkam kebebasan berekspresi. Kebenaran harus bisa disampaikan tanpa rasa takut, dan jika ada penyimpangan, hukum haruslah tegak lurus,” tambahnya.


Perubahan terjadi ketika negara berjalan pada rel yang benar. Kami berterima kasih atas apresiasi momen sejarah ini, namun Dinas Pemuda dan Olahraga harus memastikan negara tetap berjalan baik lewat kritik yang membangun, bukan pembungkaman.”
Hendri, Kabid Kesbangpol kembali menegaskan landasan konstitusional yang wajib dijaga. “Refleksi Reformasi ini berpegang teguh pada UUD 1945 Pasal 28 yang melindungi hak setiap warga negara untuk berpendapat. Semangat Reformasi berhasil mengembalikan hak-hak rakyat dan melahirkan pemerintahan otonomi daerah.
Segala dimensi kehidupan kita dilindungi hukum demi tegaknya keadilan, sesuai prinsip demokrasi yang pernah disampaikan Abraham Lincoln: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Kita masih berpegangan tangan, karena cita-cita Reformasi belum 100 persen kita raih kembali,” ungkap Hendri yang hadir mewakili Kabid Kesbangpol.

Sesi diskusi kemudian menghadirkan Buya Marpendi sebagai narasumber utama yang menyoroti esensi negara dan karakter pemimpin bangsa. Ia mengingatkan bahwa manusia hidup dengan kuota dan batas waktu, karenanya ciptakanlah karya dan mulailah bekerja dari sekarang.
“Semangat dan motivasi harus dimiliki setiap pejuang. Faktanya, kita masih hidup dalam budaya feodal. Apakah memang begini cara kita dididik? Lihatlah teladan seperti Buya Hamka atau Nasir. Ketika Nasir wafat, dampak pemikirannya jauh lebih dahsyat meruntuhkan kebodohan dibandingkan dampak bom di Nagasaki maupun Hiroshima,” ujar Buya Marpendi.
Ia menekankan bahwa masalah adalah bagian hidup manusia, dan kita hidup untuk menyelesaikannya agar menjadi hebat.
Berpegang pada tiga janji Allah bagi orang beriman: beriman sejati, beramal saleh, dan beribadah. “Kita butuh orang hebat yang berani hidup di tengah masalah. Masyarakat butuh kehadiran mahasiswa untuk masa depan, bukan nanti, tapi sekarang juga. Lanjutkan perjuangan ini,” serunya.
Buya juga mengingatkan janji Allah dalam Surah An-Nur bahwa umat yang beriman dan beramal saleh akan dijadikan pemimpin dunia, serta mengingatkan sejarah bahwa kaum zalim pun akan hancur menjelang akhir zaman. Ia menyesalkan hilangnya jati diri bangsa pasca-Reformasi dan mendorong anak muda rajin membaca konstitusi serta menegakkan amar makruf nahi mungkar.
“Indonesia makmur sumber daya, namun tumbuh berkembang dalam kebodohan, dan ada kekuatan yang membiarkan itu terjadi. Jangan biarkan idealisme hilang,” tegasnya.
Sementara itu, Dafriyon selaku panelis menyampaikan pandangan tajam sekaligus pesan khusus bagi mahasiswa. Menurutnya, dari film Di Balik 98 kita belajar demokrasi harus diperjuangkan, namun tak harus dengan kekerasan karena merusak ketahanan sosial dan ekonomi.
“Aspirasi harus murni, jangan ditunggangi kepentingan politik. Dahulu semangat patriotisme sangat luas, rela korbankan nyawa. Sekarang? Pejabat justru terasa memenjarakan rakyat dan merampas haknya,” kritiknya.
Kepada seluruh mahasiswa, Dafriyon berpesan tegas: “Mahasiswa tidak boleh lemah, harus kuat. Lihat semangat Iran, jiwa anaknya disiapkan untuk syahid. Karakter itu harus dibangun, konsisten, patriotik, siap melayani masyarakat di mana saja.
Jangan pernah memuliakan pemimpin, sebab mereka itu budak kekuasaan dan jabatan.” Ia mengajak kemandirian demi menjaga idealisme. “Jangan takut, tanamkan semangat syahid. Di mana ada ketidakadilan, di situ harus dilawan.
Fakta dan data saja belum menjamin keadilan, tetaplah suarakan kebenaran. Mahasiswa lahir dari proses, harus jujur, bermental baja, dan berdikari — jangan gantungkan hidup pada orang tua terus-menerus.”
Dafriyon menyoroti ironi bangsa: “Lihat Iran bisa buat teknologi sendiri, Indonesia suka dipuji tapi belum mandiri. Jarang sekali negarawan sejati hari ini; segalanya seolah pakai uang. Padahal, kebijaksanaan itu kedudukannya jauh lebih tinggi dari sekadar aturan tertulis. Gerakan mahasiswa harus matang, bersatu, dan bergerak jujur karena Allah semata.”
Ia juga mengingatkan sejarah panjang perjuangan, dari Kahar Muzakkar, Dahlan Jambek, hingga Tan Malaka yang berani bersuara meski berisiko nyawa.
Iwan Baharudin, mengawali pemaparannya dengan menyinggung sejarah pendidikan tokoh bangsa. Ia menyoroti fakta sejarah bahwa sebanyak 156 tokoh penting Indonesia pernah mengenyam pendidikan di Quick School, Bukittinggi.
“Di masa lalu, pemikir besar seperti Tan Malaka berbelanja wawasan ke berbagai negeri, tokoh Jerman menempuh pendidikan di Belanda, dan mereka semua sepakat akan satu hal: negarawan sejati sebenarnya sudah ‘dicetak’ jauh sebelumnya melalui pendidikan dan pemahaman mendalam tentang bangsa. Kini yang kita butuhkan adalah regenerasi yang meneruskan jejak itu,” ujar Iwan, seraya mengaitkan pola pikir para tokoh terdahulu dengan kondisi bangsa saat ini.
Ia mencontohkan Jerman dan Jepang yang bangkit kembali dan maju berkat kualitas sumber daya manusia dan pemimpinnya. “Indonesia sesungguhnya negara yang makmur, kaya sumber daya, namun sayang tumbuh kembangnya justru dihinggapi kebodohan dan ketidaktahuan. Hal ini diperparah ketika ada kekuatan, termasuk salah satu partai politik yang cukup vokal, yang justru membiarkan atau tidak menyadari kemunduran ini,” tegasnya.
Menurut Iwan, persoalan mendasar bangsa saat ini adalah hilangnya jati diri sejak bergulirnya era Reformasi. Ia mendorong sekuat tenaga agar mahasiswa dan kaum muda kembali bersikap kritis. “Bacalah dan pahamilah konstitusi, baca UUD 1945. Tugas pemuda bukan hanya belajar, tapi juga menegakkan prinsip amar makruf nahi mungkar. Kaum muda harus bermental kuat. Jangan tanya kenapa kita tidak punya apa-apa, atau kenapa Tan Malaka disebut hanya punya idealisme dan pemikiran sosial semata. Teruslah membaca, teruslah menggali ilmu, karena dari sanalah kekuatan perjuangan lahir,” seru Iwan mengingatkan.
Dari kalangan akademisi dan aktivis HMI UIN, Rendi melihat kesamaan kondisi masa lalu dan hari ini. “Pemuda adalah aktor utama dan harus melek situasi. Tantangan hari ini berupa doktrin yang masuk, hingga uji integritas saat beraksi. Sering kali idealisme pemuda dibenturkan dengan kemewahan, atau dihadang dengan intimidasi. Ada kecenderungan, ketika pemuda ingin berdemo, justru diajak ‘ngopi’ untuk dibungkam. Meski dihambat pemerintah atau dilarang orang tua, semangat itu tidak boleh padam,” ujar Rendi.
Rahman, juga dari UIN, menyoroti pergeseran pola pikir pendidikan. “Banyak yang menganggap kuliah hanya untuk cari kerja, padahal esensi kuliah adalah memperluas cara pandang dan mencari ilmu. Banyak kawan aktif di organisasi justru dilarang oleh orang tua karena pandangan yang sempit. Ini tantangan berat di tengah derasnya arus globalisasi,” katanya.
Perwakilan dari Bidang Pendidikan organisasi menjelaskan akar gerakan Reformasi. “Sebelum kerusuhan Mei 1998, pemuda dan mahasiswa sudah membakar semangat idealisme karena melihat ada yang salah dengan negara.
Aspirasi disampaikan lewat kampus dan forum, namun tak didengar, hingga gerakan membesar. Kita paham, ada pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi, namun sejarah membuktikan: pemuda lah yang mengubah keadaan dari Orde Baru menuju Reformasi,” ujarnya.
Sesi diskusi turut diisi dengan dalil agama yang disampaikan Dedet, yang mengutip Surah Ali Imran sebagai landasan pentingnya menjaga persatuan, keadilan, dan keberanian menyuarakan kebenaran demi mencegah kerusakan di muka bumi.
Kegiatan ini ditutup dengan kesepakatan bersama para peserta untuk terus mengawal demokrasi, menjaga nilai Reformasi, dan memastikan hak-hak konstitusional rakyat tetap terjaga, agar sejarah kelam masa lalu tidak pernah terulang kembali di bumi pertiwi.
(MY)







