Padang Pariaman, 23 Mei 2026 – Sekumpulan mahasiswa muda dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) membuktikan bahwa kreativitas, ilmu pengetahuan, dan kepedulian sosial mampu mengubah masalah menjadi peluang besar. Tengku Rafli, Miftahul Jannah, dan Wilda Hisna, yang merupakan kader SEMMI, sukses menciptakan terobosan luar biasa: mengolah limbah bonggol jagung menjadi briket berkualitas tinggi yang kini siap menembus pasar ekspor dunia.
Siapa sangka, sisa pertanian yang selama ini sering dibuang atau dibakar begitu saja, kini berubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, ramah lingkungan, dan dicari oleh pasar internasional.
Ide cemerlang ini bermula dari keprihatinan Tengku Rafli selaku Ketua Umum SEMMI Bukittinggi melihat tumpukan limbah bonggol jagung di wilayah Sumatera Barat yang belum terolah dengan baik. Padahal, jumlahnya melimpah setiap kali masa panen tiba. Bersama rekannya, Miftahul Jannah yang menguasai ilmu kimia, dan Wilda Hisna dari bidang agribisnis, mereka bergabung dalam kolaborasi lintas keilmuan untuk menggali potensi tersembunyi dari limbah tersebut.
Melalui serangkaian penelitian dan eksperimen, tim ini akhirnya menemukan formula tepat. Dengan memanfaatkan proses karbonisasi dan teknologi pencetakan modern, bonggol jagung yang kering diubah menjadi briket padat energi. Hasilnya sungguh memuaskan: briket ini memiliki daya bakar yang stabil, tahan lama, menghasilkan panas yang merata, dan yang paling penting—sangat minim asap serta tidak menimbulkan bau menyengat. Karakteristik ini menjadikannya jauh lebih unggul dan ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar kayu atau arang konvensional.

“Ini bukan sekadar menciptakan produk, tapi sebuah misi. Kami ingin membuktikan bahwa limbah pertanian bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi dan memiliki daya saing internasional. Di balik inovasi ini, ada tujuan mulia: memberdayakan ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan,” tegas Tengku Rafli dengan penuh semangat.
Secara ilmiah, Miftahul Jannah menjelaskan bahwa struktur serat bonggol jagung memiliki kandungan energi yang sangat potensial sebagai biomassa. Dengan pengolahan yang tepat, nilai kalor yang dihasilkan sangat efisien dan layak dijadikan sumber energi alternatif masa depan. Sementara itu, Wilda Hisna melihat peluang pasar yang sangat cerah. Seiring meningkatnya kesadaran dunia akan energi hijau dan keberlanjutan, permintaan terhadap produk berbasis limbah alam terus melonjak, baik di pasar nasional maupun mancanegara.
Keberhasilan ini membawa angin segar bagi para petani jagung di Sumatera Barat. Kini, apa yang dulunya dianggap sampah, kini memiliki harga jual dan nilai ekonomi baru. Inovasi ini membuka mata kita bahwa kekayaan alam dan hasil pertanian Indonesia belum tergali sepenuhnya, tinggal menunggu sentuhan kreativitas dan ilmu pengetahuan generasi muda.
Ke depan, tim SEMMI bertekad memperluas kapasitas produksi serta menjalin kerja sama strategis dengan investor, pelaku industri, dan pemerintah daerah. Langkah ini diambil agar briket bonggol jagung buatan anak bangsa ini dapat diproduksi secara masif dan benar-benar mampu bersaing serta mengharumkan nama Indonesia di pasar ekspor.
Kisah sukses Tengku Rafli, Miftahul Jannah, dan Wilda Hisna adalah inspirasi nyata. Bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya pandai berteori, tetapi mampu menghadirkan solusi konkret: menyelesaikan masalah lingkungan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal yang kita miliki.
Sejumlah masyarakat memberikan apresiasi tinggi dan berharap akan terus dikembangkan dalam menjaga keseimbangan alam dan wadah dalam menggerakkan ekonomi Ummat.
(My)






