

HUJAN ITU RAHMAT | Mestinya Bukan Jadi Bencana
Oleh H. Sofyan Helmi Tanjung
Yayasan Bina Imtaq – Jakarta
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Kita masih berada dalam masa kedukaan bersama berkenaan bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Do’a-doa’ telah kita munajatkan, bala bantuan telah diterjunkan pemerintah dan dukungan simpati sebagai empati dari pelbagai elemen masyarakat bangsa, juga perseorangan. Kiranya saudara-saudara kita yang terkena musibah tetap bersabar dan tawakkal menghadapi cobaan ini. Ini menjadi ujian bagi bangsa kita untuk senantiasa suka bermuhasabah, dan menghentikan perangai buruk dalam hidup berbangsa.
Tulisan ini menjadi bacaan bagi kita di hari Jum’at berkah, kiranya menjadi ibrah sebagai pengingat untuk siapa pun sadar akan keberadaan diri di muka bumi Allah ini, yaitu ketika curahan hujan sebagai rahmat itu lalu menjelma jadi bencana. Mengambil hikmah, bersabar, dan berserah diri pada-Nya, Itulah modal dalam keimanan kita. “Innallaha ma ‘ashobirin” Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
SIAPA YANG SALAH?
Berbagai macam cara orang menanggapi jika terjadi hujan yang menimbulkan banjir berdampak tanah longsor atau harta benda tenggelam karena disapu banjir. Lazimnya yang terlebih dulu kita lakukan adalah mencari kambing hitam. Biasanya sasaran tembak yang paling empuk adalah menyalahkan kepala daerah dan bahkan pemerintah pusat, yang dengan kebijakannya menjadikan penyebab kebanjiran dan kerugian yang diakibatkannya.
Dalam pandangan Islam hujan itu adalah sesuatu yang baik, yang berkah, yang bisa menghidupkan tanah tandus, memberi harapan, sumber kehidupan dan lambang kemakmuran. Sebagaimana dinukilkan dalam Al-Qur’an, “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS Al Mukminun 18)
Al-Qur’an dengan sangat gamblang mengabarkan kepada ummat manusia bahwa air hujan yang turun dari langit itu, bukan sembarang diturunkan, tetapi ia diturunkan dengan pertimbangan yang tepat, dengan volume tepat, waktu tepat, pada tempat dan sasaran yang tepat. Sehingga jika ia diturunkan maka hujan turun pada daerah yang tertentu dengan luas area tertentu, dan dengan volume yang tertentu pula sehingga tidak menimbulkan banjir, dan tidak pula dengan volume yang kurang sehingga bumi masih tetap kekeringan. Kemudian Allah juga dengan kuasa-Nya membuat sebagian dari air hujan itu menetap di bumi untuk digunakan oleh manusia mengairi sawah, memberi minuman ternak, menyirami tanaman dan bisa juga sebagai sumber air minum. Tetapi Allah juga dengan mudah bisa menghilangkannya.
Dalam suatu percakapan, BMKG Pusat mengatakan sebenarnya air hujan itu secara alami akan hilang atau lenyap sendiri melalui tiga cara, yaitu dengan cara menguap, dengan cara meresap dan terakhir dengan cara mengalirkannya. Yakinlah ketiga cara itu adalah cara yang diciptakan Allah SWT tanpa ada keterlibatan teknologi sedikit pun. Dan cara itu sudah ada sejak alam ini terkembang. Oleh sebab itu selama penguapannya tidak terganggu, resapannya tidak terganggu dan pengalirannya tidak terganggu maka hujan itu tidak akan pernah menimbulkan banjir. Itu sunnatullahnya.
HUJAN ITU RAHMAT
Nabi Nuh as, adalah Nabi yang berada diurutan ketiga dari 25 daftar Nabi Nabi yang diyakini oleh ummat Islam. Nabi Nuh menyeru umatnya untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Allah berfirman : (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepada-Ku.” (QS Nuh ayat 3)
Selama 950 tahun Nabi Nuh as berdakwah, tidak banyak di antara ummatnya yang mau beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, walaupun beberapa cara telah dilakukan, baik secara diam diam maupun secara terang-terangan, begitu pula dengan suara lembut membujuk maupun dengan suara tegas mengajak, semua itu sia-sia tidak membawa hasil yang baik.
Sebagai jalan akhir nabi Nuh as menyuruh umatnya istighfar dan bertaubat. Allah berfirman: “Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh 10-12)
Allah menyeru manusia tanpa kecuali untuk menyembah-Nya, karena bumi tempat manusia berpijak, tempat manusia dan makhluk lain berlindung yang semuanya ciptaan Allah. Allah Swt menurunkan hujan ke bumi, yang dengan hujan itu tumbuhlah buah-buahan sebagai sumber rezeki. Allah tidak menyebutkan bahwa buah-buahan itu sebagai sumber pangan bagi manusia, tetapi sebagai sumber rezeki. Jadi hujan dan buah-buahan itu sebagai trigger (penggerak) untuk memunculkan sumber-sumber penghidupan lain seperti kegiatan perdagangan di sepanjang alur sungai, menimbulkan pengairan, menimbulkan transportasi sungai, transportasi laut, dan semuanya itu karena adanya hujan yang turun ke bumi. Oleh sebab itu jika turun hujan kita disuruh oleh Nabi SAW berdo’a sebagai berikut: “Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat.” Hadits riyawat Bukhari.
Prinsip dari hujan turun adalah sumber berkah dan rahmat dari Allah SWT untuk seluruh penghuni bumi. Di saat turun hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdo’a, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan yaitu pada bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan dan saat hujan turun.” HR Al Hakim dan Al Baihaqi.
Jadi tidaklah mungkin hujan itu membawa bencana, sebab bagaimana mungkin kita disuruh berdoa pada saat sesuatu yang terjadi yang akan membawa bencana.
AKIBAT PERBUATAN MANUSIA
Satu hal yang patut disadari, hendaklah setiap manusia menanamkan dalam hatinya dan kemudian yakin bahwa apa pun yang diturunkan oleh Allah kepada makhluk-Nya di bumi pasti untuk kebaikan bukan untuk keburukan dan tidak untuk menyengsarakan penduduk bumi. Allah berfirman: “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS Az-Zukhruf 11)
Allah itu Mahaadil, tiada menzhalimi siapa pun di dunia ini, tapi manusia itu sendirilah pada umumnya yang menzhalimi diri mereka sendiri. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS As -Syura 30)
Semua organ tubuh manusia seperti mata, telinga, mulut, kaki, tangan diciptakan oleh Allah Swt untuk membantu manusia mengabdi kepada-Nya dengan sebaik baiknya. Jika organ tubuh manusia itu tidak digunakan sesuai peruntukannya, maka setan berusaha menggoda manusia untuk menggunakannya ke arah perbuatan maksiat. Perbuatan maksiat itulah yang mengakibatkan manusia ditimpa musibah, karena ingkar kepada Allah sehingga tindakannya berujung pada kerusakan di bumi mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, sungai meluap, tanah bergerak, tanah bolong.
Dan semua musibah itu penyebabnya adalah perbuatan tangan manusia yang telah keluar dari fitrahnya. Oleh sebab itu jika terjadi musibah yang terjadi pada bumi, pada diri sendiri, pada keluarga atau pada harta maka jangan cepat-cepat mencari kambing hitam dan menyebut orang lain sebagai penyebabnya. Tetapi lihatlah pada diri kita sendiri terlebih dahulu karena biasanya musibah itu terjadi karena ulah tangan-tangan manusia. Allah berfirman: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS An-Nisa 79)
Umat Islam harus meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah menzhalimi manusia, tetapi manusia itu sendirilah yang berulah hingga jadi bencana/musibah pada dirinya sendiri. Jika ada hal-hal buruk yang menimpa manusia yang menimbulkan kerugian pada harta, makanan dan jiwa maka semua itu adalah berasal dari perbuatan manusia sendiri yang sering bertindak mempeturut hawa nafsu.
Demikian jugalah halnya dengan hujan yang terjadi yang mengakibatkan banjir, tanah longsor, tanah bergerak dan seterusnya itu semua adalah lantaran ulah manusia. Boleh jadi faktor penyebab utamanya adalah sebagaimana banyak disebut sebagai akibat dari deforestasi (pembalakan hutan) yang tak mau mengingat akan keseimbangan dan kesetimbangan alam. Maka jalan keluarnya adalah intropeksi dan memperbanyak istighfar, tawakkal kepada Allah.
Wallahu a’lam bish-shawaab.
Fattaqullaha mastatha’tum.
@Penulis adalah pemerhati sosial-kemasyarakatan dan keagamaan#






