“Tuangku Rismaidi : ” Adat Minangkabau Menolak Kegaduhan yang merusak Harkat dan Martabat Manusia! ”
BUKITTINGGI, 10 Februari 2026 – Siapa yang tidak kenal dengan suara gema yang kerap bergema di sudut kota? Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa suara yang kita anggap biasa justru menusuk hati dan badan mereka yang sedang terbaring lemah di tempat tidur sakit?
Fenomena ini kini menjadi sorotan berbagai tokoh, salah satunya, Tuangku Rismaidi, tokoh, pemuka adat kurai yang akrab dengan nilai-nilai luhur “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”,
“Di tanah Minangkabau, kita diajarkan bahwa ‘rukun adalah dasar kehidupan’ dan ‘hormati orang lemah seperti menghormati gunung yang menjunjung langit’ – lalu mengapa kita masih tega membiarkan suara berisik menyakiti mereka yang paling membutuhkan kedamaian?” ujar Tuangku Rismaidi dalam temu wawancara ekslusif
Menurutnya, suara keras yang mengganggu pasien bukan sekadar pelanggaran kesopanan, melainkan sebuah penyimpangan dari jiwa adat yang mengakar pada rasa empati.
“Apakah kita rela jika orang tersayang yang sedang sakit harus terpaksa mendengar gema yang tidak perlu? Pasien adalah orang yang sedang dalam masa ujian dan kelemahan.
Gema speaker yang mengganggu bukan hanya menghambat penyembuhan fisik, tetapi juga menusuk hati nurani mereka yang sudah lemah!” tegasnya dengan nada yang penuh sedih dan prihatin.
Menurut perspektif adat istiadat Minangkabau yang telah hidup berabad-abad, setiap ruang tempat tinggal atau perawatan harus menjadi “tempat yang penuh kasih dan kedamaian”.
Nilai kemanusiaan yang terkandung dalam tradisi leluhur mengajak setiap individu untuk menjadi bagian solusi dalam proses kesembuhan, bukan menjadi sumber gangguan yang memperparah penderitaan.
“Kita tidak boleh menganggap sepele dampak suara berisik! Dalam tradisi kita, ‘suara yang tidak pantas adalah seperti angin kencang yang merusak tanaman muda’ – ia tidak hanya merusak ketenangan lingkungan, melainkan juga menghancurkan fondasi hubungan antarmanusia yang dibangun atas rasa saling menghargai!” jelasnya penuh keprihatinan
Tuangku Rismaidi mengajak seluruh masyarakat Bukittinggi bahkan seluruh tanah Minangkabau untuk kembali merenungkan makna sejati dari kemanusiaan yang terkandung dalam adat istiadat.
“Mari kita jadikan suara yang kita keluarkan dan biarkan bergema adalah suara yang membawa kedamaian, bukan yang menyakiti. Itulah esensi sejati dari budaya kita yang patut kita jaga dengan segenap hati!” pungkasnya
(MY)






