BUKITTINGGI – Tahun 2026 menandai genap 100 tahun berdirinya Jam Gadang, ikon kebanggaan Sumatera Barat yang menjulang gagah di jantung kota ini. Sejak diresmikan pada tahun 1926, menara ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah, perubahan zaman, dan penjaga nilai-nilai luhur yang tak lekang oleh waktu.
Tuangku Rismaidi, Tokoh dan sesepuh Nagari Kurai ini menyampaikan sejumlah hal; dahulu, ketika belum ada jam tangan maupun gawai canggih, warga bergantung sepenuhnya pada dentang Jam Gadang. Ada kisah yang turun-temurun diceritakan: seorang petani dari daerah Tilatang Kamang yang berjalan kaki berjam-jam ke kota, selalu mengatur langkahnya mendengar dentang jam ini. Ia berkata, “Jam ini bukan sekadar bilang siang atau malam, tapi mengingatkan kita: ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk beribadah, dan ada waktu untuk berkumpul dengan keluarga.”
Kini, seratus tahun kemudian, dentangnya masih terdengar jelas. Namun, dunia telah berubah drastis. Waktu seolah berjalan lebih cepat, orang sibuk dengan gawai, informasi berputar dalam hitungan detik, dan seringkali manusia lupa menghargai waktu itu sendiri.
Tuangku Rismaidi secara tegas menyatakan, betapa Jam Gadang mengajarkan makna mendalam yang selaras dengan falsafah Minangkabau: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Dalam pandangan agama: Jam ini mengingatkan bahwa waktu adalah amanah Allah. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.
Dalam pandangan adat: Menara ini melambangkan keseimbangan. Tiga tingkatan utamanya menggambarkan alam: alam bawah, alam tengah, dan alam atas. Sama seperti adat yang mengajarkan hidup selaras dengan alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta. Jam berjalan teratur, tidak tergesa-gesa, tidak tertinggal — cerminan hidup yang teratur, jujur, dan bertanggung jawab.
Tuangku Rismaudi juga menghubungkan dengan era serba cepat dan digital ini, Jam Gadang menjadi cermin yang menegur sekaligus mengingatkan:
Maraknya informasi bohong, perpecahan, dan gaya hidup konsumtif, nilai ketepatan, kejujuran, dan keseimbangan yang dilambangkan jam ini tetap relevan.
Menurutnya, hampir semua kita “kehilangan waktu”: sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat, lupa waktu beribadah, dan mengabaikan hubungan sesama. Padahal, seperti dentang Jam Gadang yang tetap teratur, hidup akan indah jika dijalani dengan aturan dan nilai yang jelas.
Meski zaman berubah, teknologi berkembang pesat, nilai kebaikan, kejujuran, dan ketaatan kepada Tuhan tidak boleh berubah. Seperti fondasi Jam Gadang yang kokoh bertahan seratus tahun, iman dan adat harus menjadi pondasi yang tak tergoyahkan menghadapi perubahan zaman.
Genap 100 tahun Jam Gadang berdiri, bukan hanya menjadi kenangan masa lalu. Ia tetap hidup, berdentang, dan berbicara kepada setiap generasi.
” Waktu terus berjalan, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Berpeganglah pada agama sebagai pedoman, dan adat sebagai bingkai kehidupan. Maka, seperti Jam Gadang yang kokoh berdiri selama seabad, kita pun akan menjadi manusia yang bermanfaat dan dikenang selamanya.” ungkap Tuangku Rismaidi
“Jam Gadang berdentang, waktu berlalu. Tetaplah berpegang pada nilai, agar hidup tak sekadar berlalu.” pesannya.
(MY)






