
Oleh Dr. Sitti Rakhman
Ketua PW Wanita Syarikat Islam DKI Jakarta
Salam Jum’at Berkah buat semua
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik sewaktu aku kecil.”
Apa yang kita cari dalam hidup ini? Tentu semua orang akan menjawab, “Kebahagiaan dan ketenteraman.” Ada juga yang jawab, “Jadi orang kaya, Coy!” Namun bagi orang-orang yang beriman akan menjawab, “Mengharap akan ridha Allah.” Lalu apa yang menjadi kunci untuk bisa teraihnya keridhaan Allah SWT terhadap para hamba? Jawabnya: Keridhaan dari orang tua.
Keridhaan orangtua, ibu khususnya, adalah diwujudkan dalam sikap batin atau hati bagaimana ia merasa begitu ikhlas terhadap apa yang ia terima sebagaitakdir atas dirinya untuk mengandung, menyusui, merawat, mendidik, mengasuh anaknya di dalam belai sentuhan kasih dan sayang; dan ia rela berkorban apa saja demi kebaikan terhadap anaknya. Bahkan tak kurang, nyawa pun rela dipertaruhkan demi mewujudkan rasa cinta dan tanggung jawabnya itu.
Dalam dataran yang waras dan normal, tak seorang ibu pun merasa disusahkan oleh anaknya. Sebab ia faham atas peran, fungsi, dan tanggung jawabnya untuk mengemban amanah Allah SWT yang dititipkan lewat rahimnya. Doa ibu pun tak putus-putus dipohonkan ke hadhirat ilahi agar “makhluk mulia” yang sempat singgah di rahimnya itu kelak menjadi insan yang shalih/shalihat dalam menapaki kehidupan. Rasanya pula, doa ibu senantiasa ada sepanjang hayat dikandung badan.
Jangan Sakiti Ia
Rasulullah Muhammad SAW memberikan tuntunan kepada kita betapa penghormatan terhadap orang tua amatlah penting. Pemuliaan terhadap orang tua berada pada urutan pertama yang wajib dilakukan oleh anak-anaknya, tentu saja berkedudukan di bawah setelah pemuliaan yang utama terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Pemuliaan seorang hamba terhadap Allah dalam konteks hubungan vertikal (hablumminallah) tentulah berbeda posisinya dengan pemuliaan antara seorang anak terhadap orang tuanya dalam kerangka hubungan horizontal (hablumminanas).Anak tak boleh menyakiti hati orang tuanya.
Penghormatan dan pemuliaan terhadap seorang ibu bahkan “lebih ditekankan” porsinya dibandingkan dengan penghormatan anak terhadap ayahnya, sebagaimana petunjuk Rasulullah yang sudah amat kita kenal yaitu “ibu tiga tingkat di atas ayah”. Ini lebih memberi pemaknaan yang objektif, bukan diskriminatif untuk memosisikan beda antara ayah dan ibu di mata anak-anaknya. Namun yang jelas, terhadap keduanya, tidak ada ruang sedikit pun untuk seorang anak boleh melecehkan apalagi menistakan mereka, bahkan menyanggah saja pun dilarang keras.
Diingatkan, “….dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra 23)
Kunci Surga
Sejatinya, anak dan orang tua saling mendoakan di dalam ketulusan hati. Doa seorang ibu untuk anaknya sebagai refleksi keridhaan dirinya itu bahkan menjadi kunci utama dan semacam prasyarat untuk teraihnya ridha Allah.
Maka seorang ibu yang baik tidak akan pernah melontarkan perkataan yang bisa mengundang bala atau kecelakaan terhadap anaknya, sebab ucapannya itu amat dekat untuk terijabahi (terkabulkan). Begitupun sebaliknya, anak yang baik akan senantiasa berbakti dan santun terhadap ibu dan ayahnya.
Tatkala Umar bin Khattab pamitan kepada Rasulullah untuk menunaikan ibadah umrah, Rasul berpesan agar ia mencari seseorang yang bernama Uweis Al-Qarni, seorang dari Yaman yang datang melaksanakan umrah. Di Jabbal Rahmah ia temukan seorang laki-laki yang sedang mengais-ngais makanan dan makanan yang terkumpul itu diberikannya kepada seorang ibu yang tua renta. Ia berikan makanan dan minuman pada ibunya dengan amat santunnya.
Kejadian itu menarik perhatian Umar, lalu ia bertanya siapa perempuan tua itu, dan laki-laki itu menjawab bahwa itu adalah ibunya. Lalu ditanya dari mana mereka berdua berasal, yang dijawab dari negeri Yaman, dan dengan apa kalian berdua datang ke sini untuk beribadah umrah, yang dijawab Al-Qarni dengan berjalan kaki. Lalu bagaimana dengan ibunya, yang dijawabnya bahwa ia menggendong sang ibu sepanjang jalan dari Yaman sampai Makkah.
Fahamlah Umar bahwa inilah Uweis Al-Qarni, laki-laki yang disuruh oleh Nabi untuk ia temui. Usai umrah, Umar kembali menemui Nabi SAW dan bertanya siapakah Uweis Al-Qarni itu, ya Rasulullah? Dijawab oleh Nabi bahwa ia tak kenal dengan orang itu, namun Nabi sempat dibisikkan sebelumnya oleh Jibril alaihissalam bahwa laki-laki itu adalah seorang ahli surga. Subhanallah.
Begitu hebatnya bakti Al-Qarni terhadap ibunya — menggendong dengan berjalan kaki dalam jarak yang demikian jauh — demi bertaqarrub ilallah. Tentu sang ibu begitu ikhlas dan ridha terhadap anaknya.
Lalu kita bertanya: Bagaimana halnya dengan kita? Sudah berapa banyak kita membentak ibu kandung kita sendiri? ®






