Perjuangan Syarikat Islam dalam memperjuangkan ekonomi pribumi di era globalisasi dilihat dari sudut pandang tokoh-tokoh pentingnya adalah sebuah upaya membangun dan memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan dasar dakwah Islam dan persatuan umat.
Tokoh-tokoh seperti Haji Samanhudi—pendiri Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam—mendirikan organisasi ini dengan tujuan melindungi pedagang pribumi dari monopoli ekonomi dan persaingan yang tidak adil, terutama oleh pengusaha Tionghoa dan kebijakan kolonial Belanda.
Mereka menggalang kerja sama pedagang Islam untuk memajukan peradaban ekonomi pribumi dan membangun jiwa dagang yang kuat.
HOS Tjokroaminoto sebagai tokoh sentral dalam Sarekat Islam berperan besar dalam transformasi gerakan ekonomi ini menjadi gerakan sosial-politik yang ikut memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Melalui Sarekat Islam, perjuangan ekonomi pribumi diselaraskan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi perekat persatuan umat dan alat pembeda antara pribumi dan bangsa asing, serta menjadi landasan untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan yang sehat dan berkeadilan.
Program-program konkret yang dilakukan mencakup pembinaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), koperasi perdagangan, pelatihan kewirausahaan, dan mendirikan lembaga-lembaga pendukung ekonomi untuk memajukan ekonomi rakyat.
Di era globalisasi, perjuangan ini menjadi relevan dengan mengatasi tantangan persaingan pasar global melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan penguatan jiwa enterpreneurship agar pelaku ekonomi pribumi dapat bertahan dan berkembang.
Syarikat Islam juga berperan dalam penyebaran nilai-nilai ekonomi Islam yang menekankan aspek keadilan, kesejahteraan bersama, dan pengelolaan sumber daya secara berdaya guna. Tokoh-tokoh Syarikat Islam selalu menempatkan penguatan ekonomi sebagai bagian dari perjuangan sosial-politik yang lebih luas untuk kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat pribumi.
Tokoh-tokoh utama: Haji Samanhudi (pendiri), HOS Tjokroaminoto (pemimpin transformatif) .
Fokus ekonomi: Melindungi pedagang pribumi dari monopoli pasar, memperkuat UKM dan koperasi, pelatihan kewirausahaan .
Landasan nilai: Islam sebagai perekat umat dan pembeda dengan bangsa asing, mendukung ekonomi kerakyatan yang sehat .
Relevansi globalisasi: Pemberdayaan ekonomi rakyat menghadapi tantangan pasar global, menumbuhkan jiwa kewirausahaan .
Dengan demikian, perjuangan Syarikat Islam bagi ekonomi pribumi di era globalisasi adalah kesinambungan perjuangan ekonomi berbasis nilai Islam yang berusaha membangun kekuatan
ekonomi rakyat melalui koperasi, UKM, dan pendidikan kewirausahaan agar mampu bersaing secara adil di pasar global. Perjuangan tokoh-tokoh Syarikat Islam mencerminkan integrasi antara kepentingan ekonomi, sosial, dan politik dalam membangun kemandirian dan kesejahteraan ekonomi pribumi .





