Padang – Nama Buya Drs. H. Masoed Abidin bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar sudah lama dikenal sebagai ulama, penulis, dan cendekiawan Islam terkemuka di Ranah Minang. Lahir pada 11 Agustus 1935 di Koto Gadang, Agam – sebuah nagari yang melahirkan banyak tokoh bangsa – Buya Masoed kini berusia 90 tahun, namun semangatnya untuk dakwah dan perjuangan Islam tetap menyala.
Sejak muda, Buya Masoed menempuh pendidikan agama di Surau (Madrasah) Rahmatun Niswan, Koto Gadang, yang kemudian mengantarkannya ke jalan dakwah, keilmuan, dan pengabdian pada umat. Ia merupakan putra dari pasangan H. Zainal Abidin bin Abdul Jabbar dan Khadijah binti Idris, yang menanamkan nilai religiusitas dan kecintaan pada ilmu.
Dalam perjalanan kariernya, Buya Masoed pernah menjabat sebagai:
- Ketua MUI Sumatera Barat bidang Dakwah (2003–2006)
- Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) (2001–2007)
Selain itu, beliau juga aktif menulis, menyampaikan pemikiran Islam yang berpijak pada akar tradisi Minangkabau, serta berupaya menjembatani nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam dinamika modernitas.
Harapan pada Syarikat Islam
Dalam sebuah acara umat Syarikat Islam di Hotel Mercure Padang, Buya Masoed Abidin kembali menegaskan pentingnya kebangkitan Syarikat Islam di Ranah Minang. Ia menekankan bahwa banyak tokoh besar bangsa lahir dari rahim organisasi Islam tertua di Indonesia ini.
“Dahulu dari rahim Syarikat Islam lahir tokoh-tokoh besar seperti Haji Agus Salim, Bagindo Aziz Chan, hingga Tan Malaka. Mereka bukan hanya pejuang kemerdekaan, tapi juga peletak dasar pemikiran kebangsaan yang modern, Islami, dan berpihak pada rakyat,” ujar Buya Masoed dengan suara penuh harap.
Menurut beliau, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kebangkitan kembali Syarikat Islam bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan kebutuhan nyata. Syarikat Islam bisa menjadi wadah konsolidasi umat, penguatan pendidikan, ekonomi, dan moralitas generasi muda.
Ulama Sepuh, Semangat Tak Pernah Padam
Meski usianya sudah 9 dekade, Buya Masoed tetap aktif hadir dalam berbagai kegiatan keumatan. Suaranya yang parau namun tegas, matanya yang teduh, dan nasihatnya yang dalam, selalu menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Minangkabau.
Baginya, Islam bukan hanya agama, tetapi juga peradaban. Dan Syarikat Islam adalah salah satu fondasi penting dalam perjalanan bangsa yang harus terus dijaga dan dilanjutkan.
“Pendidikan dan dakwah adalah jalan pembebas dari kebodohan dan kemiskinan. Syarikat Islam harus kembali menjadi pelopor di bidang itu. Saya yakin, dengan tekad bersama, Ranah Minang akan kembali melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa,” pesan Buya Masoed menutup tausiyahnya.
Apakah Anda ingin saya lengkapi dengan daftar karya tulis Buya Masoed Abidin juga (buku atau tulisan yang pernah beliau hasilkan), supaya lebih komplit untuk narasi biografinya?






